Sabtu, 24 Oktober 2015

Book Review: Negeri van Oranje, Cerita Persahabatan ‘Aagaban’

Dear Bloggies,

Untuk apa pulang ke Indonesia? Pertanyaan ini melintas datang dan pergi di benak Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri, lima mahasiswa Indonesia yang mengejar gelar S-2 di Belanda. Dalam perjalan menemukan jawaban dari pertanyaan itu, mereka menjalani susah senangnya menjadi mahasiswa rantau di Eropa. Mulai dari kurang tidur karena begadang demi paper, kurang tenaga karena setiap harus genjot sepeda berkilo-kilo meter bolak balik ke kampus, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu. Kesamaan nasib menjalin erat persaabatan mereka. Bersama, mereka berbagi pengalaman dan tip bertahan hidup di Belanda. Takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: the courage of love!

Begitulah sinopsis dari novel Negeri van Oranje. Beberapa waktu lalu, saya mendapat rejeki lebih untuk menambah koleksi buku saya. Pilihan saya kepada buku dengan cover Oranye (warna khas nya Belanda di sepak bola, setahu saya sih), cover yang menarik dan begitupula dengan isinya. Kisah ini bercerita tentang kelima mahasiswa yang menempuh studi S-2 di Belanda. Lintang di Leiden, Daus di Utrecht, Wicak di Wageningen, Banjar di Rotterdam dan Geri di Den Haag, bertemu secara kebetulan saat kereta yang mereka tumpangi mengalami masalah teknis di Amersfoort. Pertemuan itu membuat mereka dekat dan menjadi sahabat, bahkan mereka menamai persahabatan mereka dengan nama Aagaban(Aliansi Amersfoort Gara-gara Badai di Netherlands).

Secara keseluruhan, cerita di novel ini menyenangkan dan detil. Cerita suka duka yang biasanya dialami dalam sebuah persahabatan. Penjelasan detil tentang indahnya pemandangan hijau di Wageningen, kanal-kanal cantik di Amsterdam hingga pantai Scheveningen, yang merupakan salah satu pantai favorit di Belanda, dipaparkan dengan rinci (jadi pengen kesana). Novel ini bisa dibilang menggambarkan kegalauan yang mungkin juga dirasakan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Luar Negeri. Haruskah kembali ke Indonesia? Dimana mereka harus berhadapan birokrasi pemerintah yang carut marut, lalu lintas padat, illegal logging, rendahnya moral pejabat Indonesia dan masih banyak lagi .

Buku ini tidak melulu menyuguhkan tentang indahnya negara-negara di Eropa, namun juga disisipi dengan prinsip-prinsip nasionalisme yang tertanam di diri Aagaban yang setidaknya bisa untuk renungan. Ini nih, cuplikan salah satu pebincangan Daus dengan teman-temannya.
Two roads diverged in the woods and I...I took the one less traveled by. And that has made all the difference,-Robert Frost. Kalau semua memilih pekerjaan di luar sistem, terus siapa yang bakal ngejalanin negara kite?”.

Saya pun sempat mengiyakan pernyataan Daus di dalam novel ini. Kalau bukan anak Indonesia yang membenahi negara sendiri, lalu siapa lagi?. Toh, sejauh-jauhnya kita merantau, tempat paling nyaman adalah rumah sendiri, Ibu Pertiwi Indonesia. Mana bisa kita menemukan tukang tambal ban di setiap jalan kalau bukan di Indonesia? Mana bisa kita menemukan Mall yang buka 24 jam seminggu kalau bukan di Indonesia? Mana bisa kita menemukan makanan khas pecel pincuk dengan sate jeroan?. Indonesia punya (hehehe).

Saya mendapat banyak tips, bayangan indahnya pemandangan di Belanda-Brussel-Austria-Barcelona dan pelajaran nasionalisme (uhuk..tumben ya! Sok-sok an nasionalis lu, ndin! Hehehe). Menurut saya, novel ini worth it! Meskipun sedikit bingung dengan alurnya(maklum karena buku ini ditulis oleh 4 orang yang pernah studi di Belanda), namun, bahasa yang digunakan pun tidak terlalu berat. Saya pun bisa sedikit-sedikit belajar bahasa Belanda yang sering disisipkan dalam dialog. Sedikit mengecewakan dengan bahan kertas bukunya, yang tipis (mungkin mengehemat biaya produksi kali), jadi harus hati-hati untuk tidak mengotori buku ini.

Saya beri nilai 4 out of 5, dan saya merekomendasikan buku ini untuk semuanya. Kabar gembiranya, buku ini akan tayang dalam bentuk film di Bioskop di bulan Desember. Saya sudah melihat cuplikan interview para pemainnya di salah satu acara talk show di televisi (jadi semakin tidak sabar melihat filmnya, karena syutingnya juga dilakukan di 5 negara Eropa!! semoga saja filmnya memenuhi ekspektasi saya).
Poster Film-nya sudah rilis!!Aktor yang main karakternya pas! penasaran sama filmnya
Akhir kata, semoga saya bisa menyusul untuk bisa mencicipi studi di salah satu negara Eropa (amin..amin..).



*BOOK DESCRIPTION
Rate                      : 4 out of 5
Writer                  :Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Title                      : Negeri van Oranje
Publisher             : Bentang Pustaka
I Own a Copy of This Book

-xoxo-

3 komentar:

  1. ceritanya seruuu dan buku ini yg jadiin aku mimpi kuliah di belanda mbak :D #jadicurhat hehe yuk mbak nanti jalan - jalan bareng euro trip kayak mereka yuk hehe eh ada filmnya jangan lupa nanti nonton ya mbak :D

    BalasHapus
  2. hahaha...iya dek, seru banget dan ini juga jadi semangatku buat ngejar cita-cita kesana!! semoga bisa ketemu dan eurotrip bareng yahh :)

    BalasHapus