A Cup of Coffee And A Flashback About The Past

00.54.00

Dear Bloggies,





Aku merapatkan tanganku, menangkup secangkir kopi hitam panas tanpa gula. Uap panas kopi mengepul melegakan hidungku yang beberapa waktu terakhir memiliki ketergantungan terhadap aroma kopi hitam yang memberikan kenyamanan bagiku. Malam ini, aku duduk di tempat seperti biasanya di cafe yang selalu ku kunjungi tiap kali datang ke kota Malang, sembari melihat hiruk pikuk kendaraan yang melintas malam ini. Hujan deras yang mengguyur kota ini tidak membuat kemacetan berkurang, namun sebaliknya. Ramainya klakson kendaraan bersahutan satu sama lain, kota ini semakin ramai. 


Tidak banyak memang, cerita yang pernah tertulis di kota ini tentang kita. Terhitung sudah lima kali, lima episode tentang kita di kota ini. Dari pertama saat kita mulai dekat, hingga titik akhir dimana kita mulai menjadi orang asing bagi masing-masing. Teringat saat pertama kali aku nekat ikut touring Surabaya-Malang-Surabaya hingga akhirnya masuk angin karena tidak terbiasa touring menggunakan sepeda motor dalam jarak jauh. Saat itu, kamu menunjukan perhatian yang mungkin bagiku sedikit aneh, karena itu pertama kalinya ada orang yang memberikan perhatian kepadaku. Lucu ya, Tuhan mempertemukan dua manusia asing lalu memisahkan mereka membolak balikkan hati mereka, memberikan pelajaran dengan cara Nya. 

Aku juga ingat, betapa senangnya diri ini saat kedua kalinya mengunjungi kota ini denganmu, dan mencoba Ice Cream Oen yang terkenal itu. Kita datang kesana, clueless tapi sok banget..nongkrong di tempat mahal hanya demi mencicipi ice cream handmade dengan harga selangit bagi mahasiswa kere seperti kita. Uang 99000 terbuang hanya untuk mencicipi dua gelas ice cream dan 1 porsi risol mayo, dan kita mentertawakan kehedonan diri. “Wis kan?! Sudah pernah nyobain ice cream Oen, kapok nggak? Jajan sedikit tapi duit keluar banyak. Sekarang mau kulineran apa lagi?” katamu. Aku hanya meringis tanpa merasa bersalah tetapi di dalam hati meratapi uang yang habis dalam sekejap hanya demi ice cream porsi kecil kami, yasudahlah...yang penting penah mencicipi dulu, pikirku menghibur diri. 

Kita pernah bertengkar juga, saat aku ngotot kepingin nyobain Burger Buto yang saat itu HITS banget di Malang. Aku mencari melalui Google maps, yang saat itu malah menyesatkan kita. Kamu ngotot kepingin pulang karena capek, aku nggak mau ngalah kepingin nyobain itu dan akhirnya kita berdua bertengkar di mobil. Aku menangis, kamu jadi tidak tega dan akhirnya menurutiku mencari kedai Burger Buto. Sepanjang perjalanan, kamu tak henti-hentinya membuat lelucon yang membuatku tertawa lagi. Sekali lagi aku mentertawakan sifat keras kepalaku. Kamu menolak saat ku tawari hot dog yang super duper panjang itu, katamu kamu tidak terlalu suka dan lebih memilih makan nasi campur biasa kesukaanmu. Kamu pernah bilang, kamu selalu memilih nasi campur saat ditawari makanan oleh Bapak, kemanapun kalian pergi. 

Aku menghela nafas panjang, menyesap kopi hitamku, pahit. Waktu berlalu begitu cepat, dan aku benci dengan kenyataan dimana aku masih mengingat banyak detail tentangmu. Meskipun aku tahu, bab tentang kamu harus kututup dan tidak pernah kubuka lagi. Tapi, bagaimana bisa semudah itu aku melupakan jikalau seringkali terbangun di tengah malam karena bermimpi buruk tentang kamu. Jika dulu di awal ingatan ini sangat menyiksa, kini aku bisa menerima dengan lapang semuanya. Alam menggiringku menjadi aku yang sekarang, belajar banyak hal dan menjadi kuat untuk menguatkan orang-orang disekitarku. 

Banyak ujian yang terjadi di hidupku selama dua tahun ini, dan aku harus terlihat kuat di depan orang-orang. Memasang topeng bahagia itu tidak sulit bagiku, mempertahankannya itu yang susah. Terlebih disaat aku harus terlihat kuat di hadapan orang-orang yang membutuhkanku. Terkadang hati dan pikiran yang sudah sesak ini akan tumpah menjadi bulir bulir air mata yang mengalir deras disaat aku sedang sendiri, entah saat itu sedang bercengkrama dengan Tuhan ataupun di kala waktu merenung. Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku, kenapa Tuhan memberikan ujian seperti ini? Aku hanya bisa meyakinkan kepada diriku sendiri bahwa ini semua pasti berlalu, dan aku pasti bisa menghadapi semuanya, ada atau tidak adanya kehadiranmu. 

Aku merasakan pedihnya pembalasan atas rasa cemburu Tuhan ketika aku terlalu menaruh harapanku sepenuhnya kepadamu. Aku lupa, bahwa Tuhan itu egois, tidak ingin diduakan oleh hambaNya hingga akhirnya aku disadarkan dengan cara yang mungkin menyesakkan dada. Bisa dibilang, hidupku penuh warna...warna hitam-biru lebam, dan warna warni cerah yang menghiasi bekas luka lebam itu. 

Ah...pikiranku malam ini mengembara terlalu jauh. Secangkir kopi dan satu porsi tiramisu berhasil membuat pikiranku mengembara kemana mana malam ini. Hujan yang sebelumnya deras mengguyur kota ini, perlahan kian reda. Aku memperhatikan suasana cafe yang sudah sepi, para pelayan cafe ini sudah mulai membersihkan meja kursi dan menata nya, menandakan cafe ini akan tutup. Aku menyesap kopi terakhir di gelasku, dan membereskan barang-barangku. Aku berdiri di depan cafe yang sudah tutup itu, menunggu ojek online yang akan mengantarku kembali ke penginapan. Sembari menunggu, aku menatap gerimis sisa hujan deras malam ini, menghirup aroma petrichor dan menghembuskan nafas panjang. Aneh, aku tidak lagi merasa sakit mengenang tentang kamu dan masa lalu. Dan aku menyunggingkan senyum kelegaan seperti sudah melepas beban yang selama ini sangat memberatkan hatiku.

“If love is like a possession, maybe my written feelings are my exorcirsm..”
“You are not broken beyond repair. Every stage of life require a new you. And sometimes, it requires you being broken” ~Sean Buranarihan
PS: This article might be a fiction or real story of mine, I'm not really sure about it (:p) and I just write this in order to release what my heart burdened with all this time

You Might Also Like

2 komentar

  1. What doesn't kill you make you stronger~~~ *insert dancing woman emoticon here* :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yeahhh...hahaha, lagunya secara otomatis keputer di pikiran

      Hapus